Adanya Ancaman Kelaparan untuk Politik Global

Adanya Ancaman Kelaparan untuk Politik Global – Saat ini sudah semakin banyak masalah yang terjadi di dunia ini, bahkan bukan hanya di dalam dunia saja, di negara kita sendiripun, Indonesia sudah terjadi banyak masalah, terutama di dunia politik.

Ancaman kelaparan menjadi salah satu isu global yang banyak dialami oleh negara berkembang, isu ini terjadi dimana sebuah negara memiliki gangguan pada perekonomian yang dapat berpengaruh kepada masyarakat nya itu sendiri sehingga munculnya ancaman kelaparan.Globalisasi politik merupakan proses masuknya suatu pola atau nilai-nilai yang diterima secara menyeluruh karena membawa pembaharuan dan menguntungkan di bidang politik, seperti kerja sama-kerja sama politik antar Negara dengan membentuk suatu organisasi internasional multilateral. Globalisasi politik disebut juga global governance.

Adanya Ancaman Kelaparan untuk Politik Global

Dampak dari ancaman kelaparan pada politik global :
Fenomena kelaparan memang ironis. Di negara maju, orang kaya dan makmur, tetapi di belahan dunia lain, orang membutuhkan dan kelaparan karena konflik dan perang saudara. Sekitar 20 juta orang berisiko kelaparan di Yaman, Somalia, Sudan, dan Nigeria, menurut data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) (2017). Ancaman kelaparan tidak hanya menjadi masalah bagi semua dibeenfarms negara, tetapi ancaman kelaparan dapat mempengaruhi politik dunia. Isu ini telah lama menjadi perdebatan di banyak negara, dan isu ancaman kelaparan paling banyak dialami di negara-negara di dunia, terutama di negara-negara berkembang yang ancaman kelaparannya lebih tinggi daripada di negara maju. Saat ini, lebih dari 1 miliar orang miskin dan kelaparan di dunia setiap hari karena mereka tidak memiliki akses ke makanan yang mereka butuhkan untuk menjalani hidup yang sehat dan produktif. Mereka tidak memiliki hak atas makanan yang cukup (makanan adalah hak asasi manusia). Ada paradoks bahwa produksi pangan terus meningkat sementara jumlah orang kelaparan terus meningkat.

Pada tahun 2020, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa 265 juta penduduk dunia dapat berisiko kelaparan pada akhir tahun 2020 akibat pandemi virus corona.
Program Pangan Dunia memperkirakan puncak kelaparan 265 juta pada tahun 2020, di mana 130 juta akan disebabkan oleh pandemi Covid-19. Salah satu faktor penyebabnya adalah penguncian dan resesi yang berdampak besar pada warga kelas bawah, membuat mereka berisiko kehilangan pendapatan. Di Indonesia, lebih dari 2 juta orang terkena pemutusan hubungan kerja dan pemutusan hubungan kerja yang sebagian besar menimpa para pekerja Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah/UMKM yang rata-rata berpenghasilan rendah dan menengah di industri ini.
Tidak hanya di Indonesia, negara Sudan juga dilanda kelaparan yang mengancam, membutuhkan dana darurat US$283 juta untuk menghadapi pandemi Covid-19 dan dampak ekonominya. Pandemi Covid-19 benar-benar melanda negara itu karena jutaan warganya kelaparan. Sudan Selatan sedang berjuang untuk memulihkan keamanan setelah perang saudara lima tahun yang dikatakan telah merenggut hampir setengah juta jiwa. Pemerintah persatuan yang dibentuk oleh dua musuh, Presiden Salva Kiir dan pemimpin oposisi Riek Machar, dinilai lamban dalam mengimplementasikan kesepakatan damai. Kemacetan politik di ibu kota Juba telah memicu gelombang pertumpahan darah di beberapa bagian Sudan Selatan.

Solusi yang dapat diberikan :
Solusi yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya ancaman kelapara bagi suatu negara maupun global diperlukan pemerintahan yang “kuat” dan peduli, yang akan mendorong kebijakan dan sistem produksi pangan yang berkaitan dengan ekonomi, pertanian, ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh karena itu, masalah ketahanan pangan tidak dapat diselesaikan hanya dari sudut pandang lokal dan nasional, tetapi harus diselesaikan dari sudut pandang global. Dengan kata lain, pemerintahan yang “kuat” yang diharapkan dapat mengatasi masalah ketahanan pangan adalah respons terbaik terhadap tantangan ketahanan pangan. Membangun tata kelola sistem pertanian dan pangan yang “kuat” di tingkat global, negara bagian dan lokal adalah strategi utama untuk mencapai agenda MGD untuk mengurangi kelaparan dan kekurangan gizi.